The Power of Guest Booker

The Power of Guest Booker

“Selamat sore Pak Menteri, saya Diki Umbara yang whatsapp barusan. Saya hendak jelaskan perihal acara yang saya sampaikan tadi”, demikian saya utarakan sebagai kalimat pembuka di telpon ke salah satu menteri dari partai terbesar di Indonesia saat ini. Ya, saya menghubungi menteri langsung tanpa melalui sespri (sekretaris pribadi) ataupun melalui humas kementerian. Bagaimana bisa? Nah detailnya saya tuturkan di artikel ini.

Ada banyak cara bagaimana saya menghubungi orang untuk saya mintakan menjadi narasumber acara televisi entah itu untuk talkshow atau genre lainnya. Bagaimana bisa menghadirkan narasumber terutama orang-orang penting atau dianggap penting di negeri ini sudah saya lakukan beberapa tahun silam sejak saya menjadi produser di salah satu televisi. Suatu kebiasaan yang akhirnya “keterusan” hingga saat ini. Walikota, Bupati, Gubernur, Menteri, Pejabat KPK, Anggota DPR, Pejabat Badan Intelejen, Duta Besar, dan lainnya sudah saya hadirkan untuk menjadi narasumber atau bintang tamu acara. O ya dihadirkan atau saya temui juga.

Apa yang dikerjakan ini sejatinya merupakan salah satu tugas dari guest booker, orang yang memiliki tugas utama untuk menghubungi narasumber. Guest booker ada di semua televisi dan sebagian production house. Ia mesti pandai bagaimana melobi berbagai kalangan untuk dijadikan narasumber acara.

Membangun Relasi 

Banyak cara bagaimana guest booker bisa mendapatkan narasumber dan bisa jadi para guest booker memiliki cara masing-masing. Namun demikian hal yang paling penting adalah bagaimana ia mampu menjalin relasi, baik itu personal, lembaga, dan lain sebagainya. Semakin banyak relasi, tentu akan lebih memudahkan. Bagaimana agar relasio terbangun?  Hal inilah yang kadang tidak bisa didapatkan secara instan.

Relasi merupakan trust atau kepercayaan. Tidak mungkin misalnya saya bisa menghubungi gubernur, menteri, pejabat polisi secara langsung jika tidak ada kepercayaan dari mereka. Hal ini sebetulnya agak sulit saya jelaskan. Namun saya akan coba tuturkan contoh bagaimana membangun relasi yang dimaksud.

Ada salah satu menteri di Kabinet Indonesia Maju dimana saya sedikit kenal sebelum ia menjadi menteri. Maksudnya saya kenal beliau, namun beliau mungkin tidak kenal ke saya. Nah lho? Hanya saja relasi sudah saya jalin saat ia masih menjadi salah satu staf kepresidenan.  Dan karena trust itulah saya mendapat kontak tiga orang menteri. Ia memberikan saya kontak langsung karena tentu saja telah percaya, tidak asal kirim saja.

Bagaimana cara mendapatkan kontak narasumber sebetulnya banyak sekali, kadang saya sampai lupa bagaimana akhirnya saya mendapat kontak-kontak tersebut. Dan kini belasan kontak Menteri, puluhan Anggota Dewan, Duta Besar, pejabat Polri, TNI, Gubernur, hingga Bupati saya miliki. Saya kontak mereka baik via texting (whatsapp) maupun saya telpon langsung.

Relasi terjalin tidak hanya pas saya memerlukan mereka sebagai narasumber, secara personal tetap saya jaga dan itulah barangkali yang membuat mereka nyaman ketika saya hubungi. Sesuatu yang natural dijalankan, sebab saya sendiri tidak menguasai teori public relation atau penunjang pengetahuan komunikasi lainnya.

Peliknya Birokrasi

Pernah suatu waktu saya berusaha mendapatkan narasumber dengan “jalur yang benar” yakni saya menghubungi salah menteri koordiantor tersebut melalui humas. Dan itu nyatanya sangat melelahkan. Pertama saya diminta membuat surat resmi permohonan narasumber. Dari Kabiro Humas (Kepala Biro Hubungan Masyarakat) selanjutnya surat dikirim ke sekretaris pribadi. Lantas mencocokkan jadwal. Setelah oke sespri melempar lagi ke biro humas, lalu biro humas menghungi saya minta daftar pertanyaan untuk menko tersebut. Lalu dari humas daftar pertanyaan yang sudah saya buat itu dikirim kembali ke sekpri untuk kemudian diajukan ke menteri yang dimaksud. Selanjutnya mereka meminta koreksi beberapa pertanyaan, lalu saya kirim kembali. Jika oke, humas akan meberi tahu lalu akan ada bagian yang menghubungi saya lagi yaksi sespri dan ajudan pribadi. Lantas ajudan pribadi menemui saya lantas Pak Menteri pun hadir, saya sambut hingga antar selepas acara selesai.

Betul-betul panjang dan melelahkan. Karena itulah saya kurang menyukai jalur benar seperti ini dan hampir semua narsumber saya akan hubungi langsung tanpa “perantara” birokrasi yang maha pelik tersebut. Walau demikian hal tersebut akan merepotkan mereka. Humasnya yang keteteran mesti mengurus sesuatu yang diminta langsung oleh menterinya, ya karena sang menteri atau pejabat lain tersebut sudah saya hubungi sebelumnya. Tapi inilah jalur paling cepat. Kejadian tersebut misal salah satu menteri atau malah disebut Super Minister dimana dia sudah bilang okay ke saya, maka humas dan staf menteri tersebut mau tidak mau harus segera mengakomodir kehadiran menteri tersebut.

Pun hal tersebut pernah saya lakukan untuk salah seorang Gubernur. Pak Gubernur saya hubungi secara melalui nomor langsung, beliau oke. Dan Humas serta staf lainnya pun ketereran sembari mereka bingung kenapa saya bisa direct menghubungi Pak Gubernur sementara orang Humas sendiri belum tentu punya nomor langsung, paling hanya nomor sesprinya saja.

Komunikasi Personal

Dalam komunikasi ada komunikasi personal, namun saya tidak akan menjelaskan perihal teori komunikasi karena telah banyak yang membahas hal tersebut. Di sini saya akan memberikan kembali contoh bagaimana terori tersebut bisa dipraktekan atau apa yang telah dipraktekan ternyata memang ada dalam teorinya.

Menjalin komunikasi dengan pendekatan personal kerap kali efektif untuk banyak hal. Kementerian yang sangat besar atau Pemerintahan Daerah dengan berbagai birokrasinya itu nyatanya bisa “ditembus” dengan pendekatan personal. Lalu bagaimana tipsnya? Ini beberapa pengalaman pribadi yang mungkin bisa juga dipraktekan oleh pembaca. Pertama adalah percaya diri. Ini sangat penting, kita tidak boleh jiper alias minder ketika berkomunikasi dengan orang lain termasuk berkomukasi dengan pejabat negara penting sekalipun. “Mereka juga manusia” itulah mindset yang sudah saya benamkan sedari awal. Maka, saya sangat percaya diri ketika menghubungi langsung Menteri Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri Yasonna Laoly, Gubernur Bangka Belitung, KSAD, Ketua Umum Partai dan lainnya. Ketika kita percaya diri, maka komunikasi akan mengalir dengan lancar.

Jalinan komunikasi personal berlangsung tak melulu soal pekerjaan hal ini yang akan meluluhlantakan gap yang jauh antara saya dengan para narsumber. Duta Besar Uni Emirat Arab misalnya, kerap menjalin komunikasi walau saya sedang tidak meminta beliau sebagai narasumber.

Salah satu hal penting dari komunikasi itu adalah perihal bahasa. karena itulah baik berbicara langsung, lewat telpon, atau via whatsapp maka saya hindari kesalahan bahasa. Saat via WA misalnya, kita pastikan dulu kata-kata yang kita gunakan benar dan jelas, hindari typo atau salah ketik. Ketika selesai mengetik dan mengecek dan sudah benar, baru teks tersbut saya kirimkan. Walau demikian kadang saya mendapat jawaban yang jauh dari kata rapi. Beberapa pejabat menjawab chat saya dengan bahasa tidak rapi, mungkin maksudnya hendak nampak lebih akrab dengan bahasa anak muda yang agak amburadul.

Karir Guest Booker

Profesi yang sangat jarang dketahui orang, karena itulah saat televisi atau PH mencari guest booker maka biasanya yang melamar pun tidak akan banyak. Apakah guest booker itu penting? Saya pikir dengan paparan di atas sudah dipastikan jawabannya apa. Dalam acara talkshow misalnya, narasumber itu sangat penting baik itu dihadirkan secara langsung maupun melalui telpon atau jaringan virtual. Dan guest bookerlah orang yang mesti memiliki keahlian dalam hal ini.

Artikel ini masih panjang, saya buat terpisah menjadi 3 artikel.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *