Persiapan Shooting (part 3)

Persiapan Shooting (part 3)

Brainstorming sama penulis naskah sudah, mencari pemain lewat casting sudah, lantas persiapan apalagi yang harus dilakukan seorang sutradara ?

Diskusi bareng Kru

Ya, diskusi dengan kru yang lain tidak kalah pentingnya. Salah satunya adalah diskusi dengan Art Director alias Penata Artistik. Beberapa sutradara menyukai dan senang membuat sketsa, ini menjadi bahan yang bisa didiskusikan dengan seorang penata artistik, walaupun bisa jadi sketsanya masih berbentuk elemeter saja.  Seorang penata artistik akan memberikan masukan serta gagasan set yang akan dibangun. Sedangkan ide tata artitistik bisa dari seorang sutradara atau art director sendiri. Produser juga biasanya dilibatkan, karena tata artistik akan berhubungan dengan masalah budgeting.

Sutradara juga  berdiskusi dengan penata kamera atau D.O.P (Director of Photography). Komposisi, angle, camera movement, didiskusikan secara detail. Beberapa sutradara kadang mengoperasikan sendiri kameranya, semisal sutarada Dimas Jay dan Rudy Soedjarwo dalam beberapa filmnya.

Shooting Schedule

Penjadwalan shooting dilakukan setelah sutradara melakukan breakdown script, dalam hal ini sutradara biasanya dibantu oleh assisten sutradara.  Ketika asisten sutradara membuat lay out penjadwalan shooting, satu hal yang menjadi perhatian adalah halaman naskah yang telah diberi penomoran halaman, dimana sutradara dapat melakukan pengambilan gambar/shooting.

Pemilihan Lokasi

Pemilihan lokasi shooting adalah hal penting lainnya. Beberapa film dibuat dengan lokasi sebenarnya seperti yang digambarkan di naskah. Namun, pada kenyataanya terkadang lokasi shooting “harus disesuaikan” dengan budget yang dianggarkan produser. Karena beberapa faktor, lokasi shooting film “Ayat-Ayat Cinta” yang seharusnya dilakukan di Mesir, terpaksa dipindahkan ke India dan beberapa lokasi di Indonesia. Di Hollywood sana untuk urusan lokasi shooting tidak seribet di Indonesia, ya karena mereka memiliki studio yang sangat lengkap pun di India. Misal, untuk setting supermarket mereka tinggal memakai studio bersetting supermarket. Nah kalo di Indonesia? kita tidak punya studio seperti di sana. Untuk shooting dengan setting supermarket tadi di kita ya pakai supermarket beneran. Ya, tentu saja ini pasti membutuhkan penanganan khusus.

bersambung….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *