Bagaimana Agar Video Kita Tidak Dicuri?

Bagaimana Agar Video Kita Tidak Dicuri?

Bagaimana jika video yang kita buat ternyata dimanfaatkan oleh orang lain tanpa sepengetahuan kita? Menyebalkan bukan? Hal itulah yang terjadi pada seorang kawan yang seorang pegiat video. Ia kaget sebab videonya digunakan oleh stasiun televisi untuk sebuah tayangan. Tidak hanya itu, yang lebih menyedihkan adalah video tersebut diakui sebagai milik si pencuri video tersebut dengan sebuah watermark.

Setelah komplain di sosial media, akhirnya Wapemred stasiun televisi yang mencuri video itu mau menemui kawan saya. Berikutnya entah kesepakatan apa yang terjadi. Ada pelajaran penting yang bisa dipetik dari kejadian ini. Ya inilah perihal copyright atau hak cipta video. Lantas bagaimana agar video kita aman dari sang pencuri?

Sebetulnya tidak ada hal yang bisa menjamin seratus persen sebuah karya audio visual aman dari si pencomot. Yang bisa dilakukan oleh kreator adalah bagaimana meminimalisir video tersebut jatuh ke tangan yang tidak berhak tadi.

Berikut merupakan beberapa cara untuk menjaga video kita setidaknya tidak serampangan digunakan tanpa izin si pemilik.

copy.jpg
sumber: insticc.org

Saat kita membuat video tentu salah satu hal yang mesti kita pastikan adalah untuk siapa video itu dibuat. Apakah video itu dibuat untuk bisa tersebar ditonton banyak orang? Atau malah sebaliknya, jangan sampai video itu dilihat oleh publik. Kenapa hal ini penting? Sebab bagaimana kita menjaga video tersebut juga menjadi salah satu hal penting.

Watermark

Ini merupakan teknik paling mudah yakni video diberi gambar watermark. Tehnik visible watermark, video disisipi tanda berupa gambar atau tulisan berwarna putih dengan transparan. Dengan cara ini video secara jelas akan ketahuan milik siapa. Hanya ini tentu saja akan sedikit menganggu yang melihat video tersebut. Simple dan gratis, sebab tidak memerlukan software khusus. Kelemahannya, selain mengganggu watermark ini tidak bisa dihilangkan terutama jika watremark ditempatkan pada area yang sulit dicropping.

Namun ada juga jenis watermark yang invisible, ia tidak kelihatan secara kasat mata namun bisa menandai video tersebut dengan logo atau text. Hanya saja untuk menggunakan invisible watermark ini memerlukan software khusus. Salah satunya yakni Digimarc Guardian, ia bisa memproteksi video yang dimaksud. Dengan software ini video bisa “dikunci” sehingga hanya bisa dilihat dengan enkripsi melalui software tersebut.

Proteksi Plugins

Inilah proteksi video yang sesungguhnya. Bahkan dengan Digital Rights Management (DRM) misalnya, video bisa distetting sedemikian rupa untuk hanya ditonton pada periode waktu tertentu. Lantas untuk apa sebetulnya proteksi video seperti ini? Tentu untuk video yang kebutuhannya bagi kalangan terbatas. Misalnya video marketing tool perusahaan yang diperuntukan bagi kalangan karyawan saja.

Video Password

File video bisa dibuatkan passwordnya. Fasilitas password untuk memproteksi file video ini ada di platform pendukung hosting dan marketing. Jadi, individu atau group yang mendapat otoritas pada video tersebutlah yang bisa mengakses. Hal ini dilakukan baik pada satu video atau berupa play list yang memuat beberapa video.

Area Domain

Nah video yang ada pada web tertentu juga bisa diproteksi, bisa dikontrol apakah misalnya video tersebut bisa dishare atau diplay kembali. Ya dengan domain restriction ini cocok untuk website yang hendak memuat video dengan kontrol penuh.

Penjadwalan

Kadang ada video yang hendak kita pertontonkan dalam kurun waktu tertentu. Dengan scheduled delivery, maka video bisa diunggah kemudian diajdwalkan penayangannya dalam kurun waktu tertentu. Video yang dikirim bersamaan dengan kode akses dimana kode tersebut ada tenggat waktunya.

IP Address

Hampir sama dengan domain, namun restriction IP Address ini memang dibuat untuk lingkungan tertentu misalnya perusahaan dan kampus. Jadi video hanya bisa diputar pada komputer dengan IP Address yang telah ditentukan. Video yang hanya bisa dibuka di IP Address tertentu ini biasanya merupakan video yang bersifat internal, misalnya untuk keperluan training.

Masih ada beberapa lagi bagaimana agar video bisa diproteksi sedemikian rupa yang intinya video tersebut hanya digunakan oleh orang yang kita inginkan saja.

Perihal Hak Cipta

Sedangkan kasus pencurian video seperti di awal artikel ini sebetulnya agak lain. Seorang teman memang sengaja mengunggah video tersebut melalui platform YouTube. Ia memang tidak memproteksi video tersebut karena memang sengaja untuk bisa ditonton publik.

Namun nyatanya ada yang memanfaatkan video tersebut untuk keperluan komersial. Dalam hal ini sebuah stasiun televisi mengambil video tersebut tanpa izin pada si pembuat. Bahkan tanpa malu ia mencantumkan watermark yang seolah video tersebut merupakan property si media pencuri tadi.

Tentu hal itu salah sebab artinya ia telah melanggar hak cipta, sesuatu hal yang sebetulnya sudah lama namun masih banyak tidak disadari oleh masyarakat kita. Kebiasaan mengambil dan menggunakan video orang lain tanpa izin masih saja menjadi kebiasaan. Dan celakanya hal itu dilakukan pula oleh stasiun televisi, tanpa malu mengambil video hasil karya kreator.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *