Mengatur Cahaya untuk Estetika

Mengatur Cahaya untuk Estetika

“Area untuk RI2 jangan terlalu terang, tapi jangan terlalu gelap. Dibuat sedang saja” demikian kata salah seorang protokoler didampingi dua anggota Paspamres. Tak ada banyak kalimat yang saya ucapkan menanggapi permintaan itu. “Siap, Pak” sahut saya. Waktu itu helatan penutupan Musabaqah Tilawatil Quran atau MTQ Tingkat Nasional segera berlangsung, persisnya dua jam setengah sebelum lokasi dinyatakan sudah clear area.

Tak menunggu lama, saya langsung menuju ruang kontrol tata cahaya. Saya sampaikan jika area untuk Wakil Presiden pencahayaannya jangan terlampau terang. Dengan alat pengontrol cahaya, chief lightingman mulai mengatur intensitas cahaya, tombol dimmer ia putar dan cahaya perlahan mulai meredup. “Segini, Mas?” tanyanya. “Terlalu gelap, tambahin sedikit ya” pinta saya.

Kejadian di atas merupakan salah satu contoh kecil betapa cahaya dan pencahyaan bisa diatur sedemikian rupa tergantung pada kebutuhan. Saya tidak bisa memenuhi persis keinginan protokoler sebab barangkali memang akan jauh lebih sejuk di pada mata Wakil Presiden serta rombongan, namun akan menjadi kendala untuk pengambilan gambar. Karenanya saya ambil jalan tengah, tidak mengganggu apalagi menyilaukan mata, namun masih bisa bagus ketika area diambil gambarnya untuk keperluan tayang di televisi saat itu.

Intensitas Cahaya

Cahaya sebagai bagian unsur penting dalam pertunjukkan, baik itu untuk off air maupun keperluan on air, sedemikian rupa mesti sudah dipersiapkan. Karenanya penata cahaya akan membuat konsep penataan cahaya. Dari konsep itulah nantinya penata cahaya akan tahu kebutuhan berapa kapasitas lighting sebagai sumber cahaya, jenis lighting seperti apa, serta kebutuhan equipment penunjang lainnya.

Secara sederhana, intensitas cahaya akan dipengaruhi oleh dua hal yakni luas ruang sebagai medium yang akan mendapatkan sumber cahaya serta lighting sebagai sumber cahaya itu sendiri. Namun demikian, intensitas cahaya bisa diatur. Maka, berbagai control tata cahaya hadir yang tak hanya mengontrol intesnsitas cahaya saja namun juga arah cahaya.

 Arah Cahaya

Sumber cahaya dalam hal ini lighting yang memang didesain sedemikian rupa untuk keperluan pertunjukkan, diperlukan pengatur yang bisa diarahkan pada area dan subyek tertentu. Karenanya dalam pertunjukkan, penata cahaya mesti tahu berbagai arah cahaya untuk keperluan ini. Background light, pencahyaan yang diperuntukkan latar belakang panggung, backlight arah cahaya latar belakang subyek, front light atau arah pencahayaan dari depan yang biasanya untuk keperluan keylight atau pencahayaan utama serta side light yakni arah pencahyaan dari samping kanan atau samping kiri yang biasanya difungsikan sebagai fill light. Arah cahaya akan berkaitan dengan penempatan sumber cahaya, yang namun demikian hal ini juga bisa diatur dengan pengontrol cahaya.

Warna Cahaya

 Yang dimaksud warna cahaya di sini adalah temperatur warna atau color temperature yang dikur dalam satuan Kelvin (K). Di atas 5000K biasanya disebut cool color atau bluish white, sedangkan antara 2700-3000 biasa disebut warm color. Untuk mengatur temepartur atau suhu warna akan dilakukan color balance. Hal ini dilakukan biasanya mengacu pada kulit manusia, sehingga kalaupun nantinya ada berbagai warna cahaya efek tidak akan “mengganggu” warna cahaya normal.

Lighting Controller

Seperti halnya mixer pada audio yang bisa mengaatur atau mengontrol berbagai sumber suara, lighting contoller dibuat untuk mengatur cahaya. Sumber cahaya dari lighting bisa diatur deisesuaikan dengan kebutuhan. Pun seperti halnya mixer audio, pengatur cahaya ini juga ada yang manual ada pula yang digital, bahkan lighting controller sudah ada yang wireless alias tanpa kabel. Demikian juga dengan harga, lighting controller memiliki harga di bawah satu juta hingga puluhan juta rupiah. Kenapa bisa demikian?

Pengatur cahaya yang baik tentu saja yang bisa mengakomodir kebutuhan penataan cahaya sehingga penata cahaya akan sangat terbantu dengan alat tersebut. Light contoller paling sederhana biasanya berupa dimmer biasa, dengan alat ini intensitas cahaya bisa diatur sehingga seberapa terang area atau subyek yang akan diberi pencahayaan sesuai yang diinginkan. Namun kenyataanya, pencahayaan bukan sekadar gelap terang saja, lebih dari itu ada unsur estetika atau keindahan yang merupakan bagian dari konsep acara atau pertunjukkan dimana pencahyaan menjadi hal utama, sekecil apapun acara atau pertunjukkan tersebut. Misalnya, warna apa saja yang diperlukan, apakah merah, biru, kuning, oranye atau padupadan beberapa warna. Pun dengan pergerakan cahaya, dengan lighting controller beberapa lighting bisa digerakkan sehingga pencahayaan tidak hanya diam.

Beragam Lighting Controller

Walaupun tidak terlalu banyak, produsen lighting untuk pertunjukkan biasanya mengeluarkan produk pengatur cahaya, juga ada produsen tersendiri yang mengeluarkan lighting controller, bahkan ada pula software yang didesain khusus sebagai lighting controller. Elation HedgeHog4 N II DMX Console sebuah konsol pengatur lighting tergolong high end. Alat ini biasanya digunakan untuk megatur cahaya di berbagai ruang seperti tempat pertunjukkan, event perusahaan, acara televisi, bahkan untuk nigh club. Dengan harga 100jt-an, inilah light controller yang memiliki berbagai fungsi yang bisa bermanfaat dan memudahkan kerja lightingman. Di konsol ini sudah termasuk 1 light converse visualizer software, sebuah software yang “ditanam” pada light controller yang meiiliki berbagai fungsi. Dengan hardisk 256GB yang juga tertanam di dalamnya, di alat ini bisa menyimpan berbagai setting yang sudah default maupun setting atau pengaturan yang secara custom dibuat oleh oepartor atau lightingman.

Selain Elation HedgeHog4 lighting controller kelas high end lainnya yakni  Mega Lite Enlighten Control Wing Software Control. Kisaran harga 40jt-an, light controller ini memiliki beragam fitur yang diperlukan penata cahaya.  Ada 8 high quality sliders, 1 grand master, 1 manual crossfader, 11 jog wheels fo, serta 8 bump buttons. Seperti halnya Elation, Mega Lite juga disertai software yang melengkapi light controller ini.

Jika dua light controller di atas merupakan high end yang memang digunakan untuk para profesional dan untuk keperluan penataan cahaya pada skala besar, tentu ada juga light controller yang masuk pada kategori low end yang digunakan untuk keperluan khusus. Namun secara sederhana, alat ini tentu saja memiliki fungsi dasar controller, yakni mengatur cahaya.  Chauvet DJ Obey 3 3-Channel DMX seperti namnya merupakan light controller yang hanya memiliki 3 kanal DMX. Alat ini didesain sebagai pengatur lighting LED, karenanya 3 kanal tadi dimaksudkan untuk mengatur warna merah, hijau, biru. Ada pula fungsi fader (untuk menaikan atau menurunkan intensitas cahaya) secara keseluruhan atau master fader di dalamnya.

Pada kelas midle end, nampaknya light controller justru paling banyak ditemukan di pasaran, barangkali inilah light controller yang paling banyak digunakan. Harga yang tidak terlampau mahal seperti halnya pada kelas high end, namun memiliki fitur yang cukup mumpuni untuk kebutuhan pengaturan cahaya. Di antaranya lighting controller pada level ini ada Martin M-Touch 512 Channel DMX dengan kisaran harga 7jt-an, alat ini memiliki lebih dari 500 channel DMX yang tetu saja bisa expad hingga ribuan kanal. Dengan plug and play, peralatan kelas menengah ini dianggap tidak ribet. Ada 14 FSR faders dan 20 kontrol efek yang bisa dioptimalkan sehingga lighting bisa diatur sedemikian rupa menghasilkan pencahyaan yang sudah dikonsepkan sebelumnya. Yang sekelas dengan Martin M-Touch dan bisa menjadi pertimbangan lain adalah Elation MIDIcon Light Controller. Elation Midicon memiliki 32 tombol instan dengan berbagai varian efek dan selain itu memiliki 12 pad untuk efek-efek yang dibuat untuk keperluan momen-momen tertentu.

Ada Software Selain Hardware

Jika lighting controller di atas merupakan hardware atau perangkat keras (yang sebetulnya ada dilengkapi software secara embeded), ada pula light controller berupa piranti lunak atau software. Walaupun tentu saja software ini bisa berjalan melalui hardware yakni komputer. Di antara software pengattur cahaya yang populer antara lain Emulation Control Software. Emulation merupakan software yang bisa mengatur LED, berfungsi sebagai dimmer, mengontrol laser, serta berbagai efek. Software ini bisa dijalankan pada Mac OS maupun Microsoft Window. Emulation menjadi software yang cukup power full dalam mengatur pencahayaan.

 Software lainnya ada DMX512 + Art-Net, dengan interface USB ke DMX, sebetulnya tidak murni software sebab ia tetap menggunakan hardware walaupun jauh lebih sederhana ketimbang hardware pengontrol cahaya di atas tadi.

Musik dan Pencahayaan

Pada dasarnya baik light controller berbentuk hardware, software, atau gabungan keduanya bisa disetting sedemikan mungkin oleh pengguna untuk membuat scene-scene tertentu. Scene atau “adegan pencahayaan” ini tidak berdiri sendiri namun biasanya mengkuti rundown dari acara atau program yang dibuat. Misalnya untuk adegan awal pencahyaan dibuat agak redup, pada adegan tertentu pencahayaan dibuat dinamis, sedang pada adegan lain pencahayaan dibuat lebih lembut, atau ada adegan dimana pencahayaan dibuat sangat terang dengan warna-warna tertentu. Scene-scene itu diatur pada light controller sebelum acara berlangsung dan tentu saja dilakukan rehearsal agar pencahayaan benar-benar sesuai konsep yang diinginkan.

Yang paling rumit, seperti halnya diungkapkan oleh para lightingman, adalah pencahayaan untuk acara atau program musik. Ini menjadi tantangan bagi para lightiman, pencahayaan yang menjadi bagian penting dari sebuah show. “Acara musiknya sih keren, sayangnya lightingnya kurang bagus”. Jika ada kalimat semacam ini tentu akan menjadi beban bagi lightingman, lain halnya ketika. “Musiknya keren banget, lightingnya juga keren, pas banget antara musik dengan lighting”. Nah agar pas antara musik dan lighting inilah menjadi tantangan buat para lightingman yang biasanay bekerja sama dengan art director atau performance director dan juga show director.

Artinya seorang lightingman juga mesti paham dengan audio, dengan nada, dan beat. Bagaimana agar musik “menyatu” dengan cahaya, sehingga misalnya pada nada atau beat mana lighting memberikan kesan tertentu. Seberapa cepat pergerakan cahaya serta warna apa yang pas untuk musik atau beat tertentu. Untuk acara musik tertentu, ada sotware khusus yang dibuat untuk sync antara lagu dengan musik, software ini antara lain Sync with the Music / Music2Light yang dengan software ini pencahayaan benar-benar dibuat sedemikian rupa seolah menyatu dengan musik.

Cahaya dan Estetika

Peralatan tetaplah peralatan baik pianti keras maupun piranti lunak, lighting controller hanya akan menjadi alat yang canggih namun tak begitu bermanfaat jika tidak digunakan dengan baik oleh user. Cahaya dan pencahayaan sudah ada bahkan jauh sebelum pertunjukkan ada, keindahan pencahayaan yang baik tentu saja ia berkaitan dengan estetika. Karenanya lightiman ia mesti bisa melukis dengan cahaya agar keindahan bisa dipersembahkan, dinikmati banyak orang, dan mendapat apresiasi walau dalam kalimat sederhana: “Lightingnya keren!”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *