Jalan Terjal Siaran Televisi Digital Teresterial

Jalan Terjal Siaran Televisi Digital Teresterial

Jika dibilang jalan terjal, maka memang tidak berlebihan. Analog Switch-Off alias bergantinya dari analog ke digital kerap kali berubah. Roadmap yang dibuat pemerintah melalui Kementerian Kominfo  pun nyatanya tidak berjalan mulus. Menteri demi Menteri silih berganti, namun nasib siaran digital lama  tersaruk-saruk. Mengapa demikian?

Ada Banyak Kepentingan

Tahun 2013 Institute of Community and Media Development (inCODE) melakukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi perihal peraturan menteri mengenai siaran digital. inCODE menilai bahwa tidak ada kejelasan untuk lembaga penyiaran komunitas serta berkurangnya jatah frekuensi, dan pengelolaan frekuensi yang diserahkan kepada swasta.

Menteri pun berganti dan pada 2014 lalu Asosiasi Televisi Lokal keberatan dengan mesti migrasinya siaran analog ke digital. Mau tidak mau televisi lokal mesti menyewa multiplexing pada media televisi besar yang memang ditunjuk sebagai salah satu penyedia mux.

Demikian pula beberapa protes lainnya dilakukan dari waktu ke waktu, bahkan jauh sebelumnya televisi swasta besar pun termasuk yang tidak setuju jika perubahan analog ke digital dilakukan buru-buru. Tentu bukan tanpa alasan, sebab stasiun televisi tersebut tentu mesti mengubah atau mengganti banyak peralatan yang semula analog mesti diganti dengan equipment yang memang dibuat untuk keperluan digital.

Titik Terang Beralih ke Digital

Silang sengkarut perubahan analog ke digital utamanya broadcasting teresterial nampaknya sudah menemukan titik terang. Hal ini “dipaksa” karena lahirnya Undang Undang Omnibus Law Cipta Kerja . Bahwasannya migrasi penyiaran televisi terestial dari teknologi analog ke teknologi digital dan penghentian siaran analog (analog switch off) diselesaikan paling lambat 2 (dua) tahun sejak mulai pemberlakuan UU Ciptaker. Itu berarti siaran digitall teresterial sudah akan benar-benar terlaksana penuh pada November 2021 ini.

Masyarakat dan Penonton

Sebagai konsumen, nampaknya masyarakat tidak begitu peduli apakah siaran televisi  masih analog atau akan segera digital penuh. Bahkan silang silang sengkarut mengapa perubahan masih berlarut-larut pun tidak banyak yang peduli. Saat masih bisa melihat tayangan televisi, maka hidup masih baik-baik saja. Namun demikian ada pula yang sudah aware setidaknya bisa membedakan bahwa siaran digital telah dinikmati dengan gambar dan suara lebih jernih.

Siaran digital melalui televisi berlangganan (pay to air) sudah jauh lebih lama diketahui masyarakat menyusul siaran tak berbayar (free to air). Jadi saat analog switch off akhir tahun nanti, nampaknya masyarakat sudah siap sebab kini sudah banyak yang menggunakan tv serta antena digital karena toh harga pesawat televisi digital sudah banyak yang bisa terjangkau.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *