Associate Producer atau Assistant Producer, Dia Harus Bisa Apa?

Associate Producer atau Assistant Producer, Dia Harus Bisa Apa?

Dalam sebuah situs kolaborasi media, seseorang sedang mencari profesional untuk sebuah pekerjaan. Pada situs berbahasa Inggris tersebut tercantum deskripsi yang diperlukan, tidak terlampau panjang namun cukup jelas apa yang dia inginkan dan apa yang akan didapat oleh yang hendak diajak bekerja tersebut.

I’m hiring an AP whose role will be 75% Production Coordinator and 25% shooting/editing.

The role is a rolling 3o-day contract position. It’ll pay between $4k and $4,500 per month based on experience. Looking for someone with about 2 years production experience.

AP di atas maskudnya singkatan dari Associate Producer, sebuah profesi dalam produksi program acara televisi dan film. Nah artikel ini hendak menjelaskan apa sih sebetulnya Associate Producer itu. Kemampuan apa saja yang mesti ia miliki sehingga perusahaan atau personal akan menggunakan jasa dari orang yang dimaksud.

49554401_374070306702414_4158380535049083952_n

Associate Producer kerap kali memiliki latar belakang yang berbeda, Vino G. Bastian misalnya ia menjadi Associate Producer untuk film Tabula Rasa, Vino sendiri dikenal sebagai aktor yang biasa di depan layar. Di televisi atau production house seorang Associate Producer biasanya ia pernah menjadi Production Assistant. Perihal Production Assistant sudah saya tulis sebelumnya. Namun demikian AP juga bisa berasal dari seorang yang sebelumnya tergabung di Tim Kreatif. Tapi yang jelas, dia biasanya merupakan orang yang pernah bekerja di bidang audio visual.

Associate Producer sebetulnya tidak hanya ada di dunia televisi dan film, sebab profesi ini juga ada di industri game, yakni Game Associate Producer (GAP). Tapi kali ini bahasan akan saya persempit pada Associate Producer yang bekerja di stasiun televisi dan rumah produksi.

Responsibility

Associate Producer, ia tidak bertanggungjawab kepada Producer. Nah karena itulah ini yang menjadikan perbedaan antara Assistant Producer dengan Associate Producer, walaupun di beberapa tempat dianggap sama. Bagi Associate Producer maka Produser merupakan rekan kerja, sebab itulah kemampuan Associate Producer sebetulnya hampir sama dengan Produser.

Namanya Andika Hutama, saat ini bertangungjawab untuk Pagi-Pagi Pasti Happy. Dika adalah Associate Producer di Trans TV. Acara stripping tiap pagi ini tidak memiliki Producer, Dika bercerita jika ia ditunjuk untuk menangani acara tersebut. Atasannya menilai jika ia mampu memimpin sebuah acara layaknya seorang produser. Dika bekerja dibantu oleh 4 orang Production Assistant dan 4 orang Kreatif. Dika bekerja sebagai Associate Producer tanpa producer. Ia bertanggung jawab langsung pada Executive Producer.

Dari sini bisa dilihat bahwa memang Associate Producer di televisi utamanya, dalam keadaan tertentu mesti bisa melakukan apa yang produser lakukan. Lantas kepada siapa Associate Producer bertanggungjawab? Seorang AP biasanya bekerja atas arahan Executive Producer, dan bagi AP seorang produser adalah mitra. Di beberapa tempat walau jarang, seorang Associate Producer disebut juga sebagai Co-Producer. Hal ini merujuk pada mitra sutradara yakni Co-Director.

Atau dalam dunia penerbangan dikenal sebagai Co-Pilot, yang jam terbang memang masih di bawah Pilot namun seorang Co Pilot mesi bisa menerbanggkan pesawat, bahkan ketika seorang Pilot memiliki masalah sekalipun.

Akmal Rio Ramadhan, Associate Producer di salah satu stasiun televisi MNC Group, dalam satu kesempatan mesti menggantikan sang produser dikarenakan sakit. Rio, begitu ia biasanya dipanggil, menjalankan semua hal yang sebelumnya dilakukan produser mulai dari pra produksi, produksi, hingga paska produksi.

Kualifikasi

Lantas kemampuan apa saja yang mesti dimiliki seorang Associate Producer? Kualifikasi apa sehingga ia layak mendapatkan posisi tersebut. Apakah seorang Associate Producer bekerja seperti halnya Production Assistant yang bekerja siang malam nyaris tanpa jeda?

Kabar baiknya, seorang AP bekerja tidak separah PA. Tapi bukan berarti lebih enteng juga, sebab AP memiliki tanggungjawab lain yang tidak dilakukan oleh PA. Pada dunia profesi, Associate Producer masih termasuk entry-level management. Namun demikian sesungguhnya dalam manajemen produksi film dan televisi, seorang bisa menjadi AP merupakan kebanggaan. Sebab dari AP hanya satu step lagi ia akan menjadi producer. Walau demikian di luar sana, ada AP merupakan profesi khusus bukan jenjang menuju produser, karena itulah misalnya di Amerika para Associate Producer tergabung dalam Asosiasi Profesi.

Nah inilah kualifikasi seseorang sehingga layak menjadi seorang AP:

Di beberapa stasiun televisi jabatan Associate Producer disebut sebagai Perancang Acara Madya. Hal tersebut merujuk pada istilah produser yang disebut sebagai Perancang Acara. Perancang Acara merupakan padanan Bahasa Indonesia paling tepat untuk produser televisi. Nah untuk bisa menjadi Associate Producer maka ia mesti memiliki kualifikasi sebagai persyaratan bahwa seseorang itu layak atau tidak.

Komunikasi verbal dan tertulis merupakan kemampuan utama yang mesti dimiliki, karena seorang Perancang Acara Madya akan berhubungan dengan banyak orang dimana komunikasi verbal serta tertulis merupakan syarat mutlak. Komunikasi lisan dan tulisan kerap dilakukan oleh AP untuk berkoordinasi hingga lintas departeman.

Karena salah satu tugasnya berkoordinasi tadi maka kerja seorang AP mesti teroganisir serta mampu memperhatikan hal sangat detail. Kualifikasi lain yang mesti dimiliki seorang AP adalah ia mesti seorang yang pemikir dan analitis, mampu menangani tugas teknis serta paham betul kompenen visual.

Selain bekerja kolaborasi dengan tim, AP juga harus memiliki kemampuan bekerja secara mandiri serta pandai dalam mengambil inisiatif. Ia mesti mampu menentukan skala prioritas, mencapai tujuan, dan yang paling penting lagi bisa memenuhi tenggat waktu.

Vivi Febrianti seorang Perancang Program Madya di salah satu stasiun swasta di daerah bilangan Kebon Sirih misalnya ia tahu betul bagaimana menyelesaikan pekerjaan yang setumpuk berdasar prioritas. Vivi menerjemahkan keinginan apa yang dirancang oleh tim kreatif sehingga bisa dieksekusi dengan baik, kalau perlu dengan gaya cerwetnya yang khas itu.

Associate Producer dalam produksi acara televisi nyatanya agak berbeda dengan Associate Producer untuk produksi film. Vino G. Bastian, ia mesti turut mencari sponsor serta ikut pitching sebelum film akan diproduksi serta ikut terlibat dalam strategi promosi film yang sudah picture lock dan siap ditayangkan agar ditonton banyak orang. Namun hal serupa juga dilakukan oleh Vivi, ia mesti membuat promo program televisinya di sosial media, sebab nyatanya promo on air saja tidak cukup.

Terakhir dalam tulisan ini saya hendak memberitahu, apa jenjang karir selanjutnya seseorang setelah menjadi Associate Producer? Jawabannya tak ada. Loh kok bisa begitu? Bukankah setelah menjadi Associate Producer ia akan naik menjadi Producer? Tidak demikian. Sebab nyatanya Associate Producer itu seperti Second Line Director yang bukan merupakan jenjang karir sebelum ia menjadi Director. Dengan demikian ketika Associate Producer menjadi Producer, sesungguhnya itu lebih dari jenjang karir. Lompatan seperti itu bisa disebut sebagai hijrah, sebab nyatanya ia akan memiliki responsibility yang berbeda.

Di luar sana, Associate Producer memiliki organisasi atau asosiasi dimana para Associate Producer bergabung. Pun demikian dengan profesi lainnya dimana mereka memiliki asosiasi profesi tertentu. Lantas apakah bisa dari Associate Producer menjadi seorang Producer? Tentu saja bisa namun itu berarti dia telah “pindah” dari satu profesi ke profesi lainnya yang terkesan mirip namun sejatinya bukan jenjang karir. Silang sengkarut ini kerap terlihat di banyak stasiun televisi di Indonesia, sebab itulah misalnya ada produser yang posisinya ia raih dengan instan. Ia tidak pandai menulis serta kurang memahami konten, padahal konten itu sangat penting. Pun juga kebalikannya, produser tidak boleh konsen pada konten semata, sementara hal teknis tidak dikuasai.

Pada akhirnya tulisan ini hendak menyampaikan pesan, bahwa pahami segala sesuatu secara menyeluruh jangan parsial agar saat kita menjalani profesi tertentu tahu persis bahwa kita memang layak secara kualifikasi hingga bisa menjalankan responsibility dengan baik pula.

Kelak dalam satu kesempatan saya akan menuliskan perihal bagaimana jenjang karir di televisi. Misalnya ada seorang General Manager Produksi yang dulunya meniti karir dari tim kreatif. Tapi lagi-lagi, tentu saja raihan yang ia capai tidak serta merta dalam waktu pendek. Nah detailnya nanti saja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *