Mau Capek Kerja di TV atau PH? Jadi Production Assistant Saja

Mau Capek Kerja di TV atau PH? Jadi Production Assistant Saja

Mau Capek Kerja di TV atau PH? Jadi Production Assistant Saja

Kalau kamu ke stasiun televisi atau ke sebuah production house, lihatlah orang yang paling sibuk. Coba perhatikan saja. Maka kemungkinan yang paling sibuk itu adalah seorang PA (dibaca: pi e) alias Production Assistant. Entah bagaimana mulanya di dunia pertelevisian Indonesia ini sehingga begitu banyak beban yang dilimpahkan kepada seorang Production Assistant.

Di sebuah stasiun televisi malah ada yang berseloroh jika PA itu singkatan dari Pembantu Acara, ya dialah yang membantu berbagai kebutuhan untuk berlangsungnya sebuah acara. PA juga kerap bekerja seperti Personal Assistant, ia melayani kru lain dalam menyelesaikan tugasnya. Waduh segitunya ya? Nah tulisan ini akan membahas perihal apa yang dilakukan oleh seorang Pembantu Acara eh Production Assistant.

WhatsApp Image 2019-02-18 at 20.00.01Namanya Yulinar di hari Minggu mestinya ia jalan sama Dewo pacarnya. Hanya saja hal itu tidak ia lakukan. Enang, begitu ia biasanya dipanggil, kini berada di booth editing sebuah stasiun televisi. Ia sedang memeriksa “marking” yang dibuat oleh tim kreatif. Enang mencatat apa yang ditulis pada marking sebuah timeline editing terkait kebutuhan materi insert untuk sebuah episode variety show.

Itulah Enang, seorang Production Assistant yang sedang menjalankan salah satu dari puluhan tugasnya. Puluhan? Ya begitulah seorang PA, ia memiliki paling banyak job desrcription. Seorang PA akan terlibat dalam sebuah acara dari mulai pra pro duksi, produksi, paska produksi, bahkan ketika sebuah acara telah tayang sekalipun.

Lantas apa saja sebetulnya yang menjadi tanggung jawab seorang PA? Bisa jadi masing-masing production house atau stasiun televisi memberikan tugas yang berbeda pada PA, hanya saja inilah yang umum mereka kerjakan.

Koordinasi

Inilah hal utama yang mesti dilakukan seorang PA. Ia mesti mampu berkoordinasi dengan banyak orang, hampir semua lini akan bersentuhan dengan PA. Atas arahan produser, PA akan berkoordinasi dengan kru lain dari mulai pra produksi. Ia menyiapkan agenda meeting reguler maupun konfidensial untuk sebuah program. Pada saat produski PA akan melakukan crew call sehingga crew bisa tepat waktu hadir saat shooting. Sedangkan pada paska produksi, PA akan berkoordinasi dengan editor serta tim kreatif.

Karena koordinasi dalam sebuah produksi itu sangat penting, maka kemampuan berkomunikasi seorang PA merupakan hal yang mesti dimiliki. Ya, seorang PA mesti pandai berkomunikasi untuk kelancaran koordinasi dari pra hingga paska produksi, hingga lintas departemen.

Karena itulah seorang PA kerap akan membawa catatan sebagai reminder untuk melakukan apa yang telah ia tulis atau menuliskan apa yang telah ia lakukan.

Manajemen Waktu

Siapa yang mengatur waktu seorang Production Assistant dalam bekerja? Tidak ada. Ialah yang mesti pandai mengatur sendiri. PA tidak bekerja office hour, tidak pula ia bekerja 8 jam dalam satu hari. Seorang PA bisa bekerja lebih dari 12 jam. Mengapa hal ini bisa terjadi?

Beberapa program televisi dibuat membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Satu-satunya yang membatasi adalah deadline atau tenggat waktu. Itulah yang menyebabkan seorang PA bisa bekerja seolah tidak mengenal waktu. Maka manajemen waktulah menjadi kuncinya. Bagaimana misalnya agar pekerjaan tidak menumpuk. Timeline dan working schedule mesti menjadi acuan seorang PA sehingga pekejaan bisa selesai tepat pada waktunya.

Dari Pra Produksi hingga Selesai Tayang

Seperti di industri lain pada industri media tentu memiliki karyawan dengan jobdesc spesifik masing-masing. Ia biasanya akan bertanggung jawab pada tugas dan waktu tertentu. Ada yang hanya bekerja pra produksi,ada pula yang bekerja saat produksi dan paska produksi saja. Namun tidak demikian dengan Production Assitant.

Yulinar, sudah mulai bekerja pada saat pra produksi dari mulai menghadiri meeting persiapan produksi hingga mempersiapkan berbagai kebutuhan untuk saatnya produksi nanti. Saat pra produksi, berbagai keperluan dilist sedemikian rupa agar tidak ada yang telewat.

Dalam meeting pra produksi produser akan memaparkan breakdown program. Nah dari breakdown inilah berbagai kebutuhan akan nampak. Dari sinilah PA mencatat dan kemudian berkoordinasi dengan departemen lainnya untuk memenuhi keperluan tersebut. Di antara kebutuhan yang dimaksud di antaranya equipment shooting.

PA akan mencatat equipment apa saja yang diperlukan saat shooting. Setelah itu ia akan order equipment yang dimaksud, lantas apakah peralatan tersebut tersedia di tempat sendiri atau mesti sewa. Deany Maryana Purba, seorang Asisten Produser yang pernah menjadi Production Assistant mengatakan bahwa pemesanan equipment di televisi yang dikomandoi Wisnutama untuk pemesanan equipment seorang PA tidak bisa order dadakan, ia mesti jauh-jauh hari melakukan pemesanan. Hal tersebut tentu saja wajar sebab stasiun televisi memliki keterbatasan dalam aset.

Beberapa televisi atau PH bisa jadi memiliki prosedur yang berbeda, nah prosedur itulah yang mesti dipahami oleh seorang PA. Bagaimana meminjam equiment, mengurus wardrobe, property, hingga hal kecil semisal ATK. Prosedur tersebut kadang bikin melelahkan seorang PA. Jika saja koordinasi tidak baik maka bisa berantakanlah sebuah acara.

Lantas apa yang dilakukan seorang PA saat produksi? Ada beberapa hal berbeda yang dilakukan PA saat produksi, salah satunya tergantung dari jenis atau tipe acaranya itu sendiri. Sebab kebutuhan untuk shooting di studio berbeda dengan di luar studio. Apakah di studio atau di luar PA bisa lebih santai? Tidak keduanya karena baik di studio maupun di luar tugas PA telah menanti. Saat shooting di luar, PA akan memenuhi keperluan yang berkaitan dengan logistik hingga keperluan konsumsi kru. Kok seperti Pembantu Umum ya? Ya keculia sinetron, dalam produksi non studio PA juga mesti mengurusi urusan perut kru. PA tahu betul jam berapa dan kapan kru mesti istirhat makan.

Apa yang terjadi di lokasi shooting pun dicatat oleh PA misalnya untuk keperluan di paska produksi nantinya. Ia mesti menyiapkan media penyimpanan dari saat mulai shooting hingga shooting berakhir. Selapas shooting selesai pun PA masih mesti bekerja, misalnya mengecek semua equipment yang telah digunakan tadi sebab mesti dikembalikan ke departemen logistik atau ke pihak rental jika equipment tersebut mesti disewa.

Capek selepas shooting, sang PA pun tidak bisa berleha-leha sebab pekerjaan berikutnya menanti. Yakni mempersiapkan materi hasil shooting tadii untuk keperluan editing. PA sudah mulai bekerja di paska produksi bahkan sebelum editor bekerja. PA akan melakukan ingest atau memasukan materi shooting ke storage yang di editing. Tidak sekadar ingest sebab materi mesti dikelompokkan per segmen atau per scene. Proses grouping ini untuk memudahkan kelak saat editor akan melakukan penyuntingan gambar.

Selesai sampai di situ? Ternyata tidak sebab PA masih berkoordinasi dengan editor, kreatif, serta produser. PA harus mempersiapkan materi yang telah diedit tersebut untuk dipreview oleh produser dan eksekutif produser. PA dan kreatif akan mencatat hal apa saja yang mesti direvisi yang kemudian ia akan kembali ke booth editing.

Kelar? Ternyata belum sebab setelah selesai maka materi master edit yang siap tayang akan dikirim ke bagian Quality Control atau QC. Banyak televisi yang sudah terkoneksi antara editing dengan QC dan MCR namun ada pula yang masih konvensional. Jadi file master edit tadi dikirim ke QC dengan melampirkan form timecode (timecode ini diperlukan untuk MCR untuk mengisi jeda waktu dan lainnya).

Nah nyatanya tidak semua materi hasil editing langsung lolos QC. Maka jika ada revisi, PA akan kembakli ke editor untuk memperbaiki materi tadi. Lantas ia kembalikan kembali ke QC hingga benar-benar lolos QC dan siap ditayangkan.

Jika telah tayang maka semua kru tentu senang. Tapi lagi-lagi, PA ternyata masih saja harus bekerja walau acara telah ditayangkan sekalipun. Ada kalanya sponsor acara menginginkan copy tayang, maka PA akan meminta copy tayang pada bagian library. Kemudian PA akan mengirimkan copy tayang tersebut kepada sponsor atau klien.

Wah…beres dong pekerjaan Production Assistant? Tunggu dulu, ya untuk episode kali ini memang sudah beres namun pekerjaan lain telah menunggu. PA akan menyiapkan kebutuhan shooting episode berikutnya. Terus ia akan melakukan itu hingga ia kerap lupa waktu.

Yulinar Supriyaningsih seorang PA yang diceritakan di awal tulisan ini ia bahkan melakukan lebih dari apa yang ada di artikel ini. Kali ini ia masih sehat-sehat saja, bukan hal mustahil kelak karena hecticnya pekerjaan ia akan giliran kena thypus seperti produsernya.

O ya bekerja karena passion terntu saja menyenangkan. Kabar baiknya, PA memiliki jenjang karir. Setelah menjadi Senior PA, ia biasanya akan menjadi Asisten Produser. Ketika secara ia ternyata memiliki kemampuan lain selain teknis yakni konten misalnya, maka Asisten Produser berikutnya akan naik jabatan lagi menjadi Produser.

Tapi tak ada jenjang karir yang instan. Di stasiun televisi daerah Mampang Jakarta Selatan misalnya, seorang PA bisa menjadi Asisten Produser setelah masa waktu 5 tahun. Tentu bisa lebih cepat lagi, tergantung dari kemampuan dan penilaian atasannya dan mungkin perihal hoki. Tapi jangan pernah percaya yang terakhir.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *